Jaga Produksi Migas, PHR Perkuat Ketahanan Energi Nasional

Minggu, 27 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAMBI, Newsline.id – Pertamina Hulu Rokan (PHR) terus memperkuat perannya dalam menjaga ketahanan energi nasional di tengah meningkatnya kebutuhan energi dan tantangan penurunan produksi dari lapangan migas yang telah memasuki usia matang.

Upaya tersebut dilakukan melalui optimalisasi lapangan eksisting, eksplorasi sumber daya baru hingga pemanfaatan teknologi untuk mempertahankan dan meningkatkan produksi migas.

Corporate Secretary PHR, Eviyanti Rofraida, mengatakan posisi PHR sangat strategis karena menjadi salah satu kontributor utama produksi migas nasional.

ADVERTISEMENT

banner BCChost

SCROLL TO RESUME CONTENT

“PHR itu KKKS dengan produksi terbesar. Kalau total produksi seluruh PHR Regional 1, hampir sepertiga produksi migas nasional. Itu menggambarkan betapa strategisnya posisi PHR,” ujar Eviyanti saat Sosialisasi Kebijakan Energi, Akselerasi Kapasitas Publik dalam Pemahaman Kebijakan Energi Nasional dan Isu Strategis serta Cadangan Energi Nasional di Kampus Universitas Jambi, Rabu (23/9/2026).

Menurutnya, tantangan mempertahankan produksi semakin besar karena sejumlah lapangan migas mengalami penurunan produksi secara alamiah seiring bertambahnya usia reservoir.

Karena itu, PHR menerapkan strategi berlapis dengan mempertahankan produksi dasar dari lapangan yang sudah beroperasi, sembari mencari sumber produksi baru dan mengoptimalkan teknologi.

“Yang utamanya adalah memaintain baseline, bagaimana yang sudah ada ini kalaupun turun, decline-nya tidak jauh. Kalau bisa kita maintain tidak turun, kalaupun turun sedikit,” katanya.

Eksplorasi dan Teknologi Jadi Penopang

Selain menjaga produksi dari lapangan yang telah beroperasi, PHR terus mengevaluasi potensi sumber daya baru berdasarkan data dan hasil eksplorasi.

Pemanfaatan teknologi menjadi bagian penting dalam meningkatkan produktivitas lapangan serta mengoptimalkan cadangan yang tersedia.

Di Jambi, salah satu proyek yang menjadi perhatian adalah Puspa Asri yang diproyeksikan memberikan tambahan produksi dan memiliki arti strategis bagi Pertamina EP Jambi.

Pengembangan tersebut menunjukkan bahwa penguatan ketahanan energi tidak hanya bergantung pada penemuan lapangan baru, tetapi juga kemampuan industri mengubah potensi sumber daya menjadi produksi melalui inovasi dan teknologi.

Eviyanti menegaskan, keberlanjutan produksi migas juga membutuhkan dukungan dari berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah dan perguruan tinggi.

Cadangan Penyangga Perlu Diperkuat

Anggota Pemangku Kepentingan Dewan Energi Nasional (DEN), Muhammad Kholid Syeirazi, mengatakan peningkatan produksi energi menjadi salah satu langkah penting untuk memperkuat ketahanan energi dan mengurangi ketergantungan terhadap impor.

“Untuk meningkatkan ketahanan energi agar kita tidak bergantung kepada impor, tentu saja kita harus menambah produksi, baik yang fosil maupun nonfosil. Untuk minyak berarti meningkatkan lifting, begitu juga gas,” ujarnya.

Menurut Kholid, peningkatan produksi perlu berjalan beriringan dengan diversifikasi sumber energi. Pengembangan biodiesel dan etanol menjadi bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar impor.

Penerapan B50, misalnya, membutuhkan kesiapan kapasitas produksi serta ketersediaan bahan baku atau feedstock. Karena itu, peningkatan produktivitas perkebunan dinilai penting agar kebutuhan bahan baku dapat terpenuhi tanpa harus bergantung pada perluasan lahan secara signifikan.

“Tantangannya masih sangat besar. Produksi kita terus naik, tetapi jangan sampai kemudian B50 ini kekurangan feedstock. Kita harus memastikan target produksi untuk menopang B50 itu cukup,” katanya.

Selain meningkatkan produksi, DEN juga mendorong pembentukan cadangan penyangga energi untuk memperkuat ketahanan nasional menghadapi kondisi darurat maupun gangguan pasokan.

“Cadangan penyangga energi itu kalau bisa sampai 30 hari setara impor. Itu diberi waktu sampai 2035. Mudah-mudahan kita mengejar. Tetapi dalam waktu dekat, paling tidak sebelum bisa 30 hari, lima hari dulu atau 10 hari dulu,” ujar Kholid.

Ia menyebut penguatan cadangan dapat dilakukan secara bertahap hingga mencapai target yang lebih besar.

Jambi Punya Posisi Strategis

Dalam konteks daerah, Jambi memiliki posisi strategis karena memiliki beragam sumber daya energi, mulai dari minyak dan gas bumi, batu bara, biomassa hingga komoditas perkebunan yang dapat menjadi bahan baku energi.

Kholid menekankan daerah penghasil energi juga perlu memastikan kebutuhan energinya sendiri terpenuhi.

“Jangan sampai tikus mati di lumbung padi. Jangan sampai Jambi yang kaya energi ini kemudian justru kurang pasok energi. Kita harus pastikan daerah-daerah penghasil energi menyumbang daerah lain, tetapi jangan sampai kebutuhannya sendiri tidak tercukupi,” katanya.

Menurutnya, ketahanan energi tidak hanya berkaitan dengan jumlah sumber daya yang tersedia, tetapi juga menyangkut distribusi dan kemampuan memenuhi kebutuhan masyarakat di daerah penghasil.

Perguruan Tinggi Didorong Berkontribusi

Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Jambi, Hafrida, mengatakan perguruan tinggi memiliki peran penting dalam mendukung penguatan sektor energi melalui penelitian, pengembangan sumber daya manusia dan pusat-pusat studi.

“Perguruan tinggi punya fungsi terutama penelitian. Kolaborasi dengan perguruan tinggi merupakan satu strategi yang cukup penting dalam rangka mewujudkan kebutuhan-kebutuhan energi,” ujarnya.

Universitas Jambi memiliki sumber daya akademik melalui Fakultas Sains dan Teknologi serta sejumlah pusat studi yang dapat dikembangkan untuk mendukung kajian dan inovasi di bidang energi.

Kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya diharapkan mampu menghasilkan riset yang menjawab kebutuhan nyata sektor energi.

Penguatan ketahanan energi nasional pada akhirnya membutuhkan pendekatan menyeluruh, mulai dari menjaga produksi migas, memperkuat cadangan penyangga, melakukan diversifikasi energi, memastikan ketersediaan bahan baku, mengembangkan teknologi hingga memperkuat keterhubungan antara riset dan kebutuhan industri.

Dengan kekayaan sumber daya energi yang dimiliki, Jambi memiliki peran penting dalam agenda tersebut. Tantangannya adalah memastikan potensi energi dapat dikelola secara berkelanjutan, sekaligus memberikan manfaat bagi kebutuhan nasional dan masyarakat di daerah penghasil.

 

Editor : M. Abyan A

Berita Terkait

HUT Propam Polri ke-24, Bid Propam Polda Jambi Berbagi Sembako dan Makanan untuk Masyarakat
Porprov Jambi XXIV Ditunda ke 2027, Tanjab Barat Tetap Disiapkan Jadi Tuan Rumah
Progres Tol Betung-Jambi Seksi 1A Capai 69 Persen, HKI Percepat Pembangunan
Polda Jambi Tegaskan Seleksi PAG 2026 dan SBP 2027 Transparan serta Berintegritas
Tampil Memukau, PERWOSI Jambi Pertahankan Gelar Juara Senam Kreasi Nasional
Polda Jambi dan BPOM Perkuat Pengawasan Obat, Kosmetik hingga Pangan
Polda Jambi Gelar Operasi Jaran Siginjai 2026, Sasar Tindak Pidana Curanmor
Bidhumas Polda Jambi Perkuat Kompetensi Personel Lewat Bimtek Fotografi dan Videografi
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 27 September 2026 - 12:36 WITA

Jaga Produksi Migas, PHR Perkuat Ketahanan Energi Nasional

Sabtu, 26 September 2026 - 12:23 WITA

HUT Propam Polri ke-24, Bid Propam Polda Jambi Berbagi Sembako dan Makanan untuk Masyarakat

Sabtu, 26 September 2026 - 12:06 WITA

Porprov Jambi XXIV Ditunda ke 2027, Tanjab Barat Tetap Disiapkan Jadi Tuan Rumah

Jumat, 25 September 2026 - 08:44 WITA

Progres Tol Betung-Jambi Seksi 1A Capai 69 Persen, HKI Percepat Pembangunan

Jumat, 25 September 2026 - 08:40 WITA

Polda Jambi Tegaskan Seleksi PAG 2026 dan SBP 2027 Transparan serta Berintegritas

Berita Terbaru

Jambi

Jaga Produksi Migas, PHR Perkuat Ketahanan Energi Nasional

Minggu, 27 Sep 2026 - 12:36 WITA