Kerinci, Newsline.id – Pemadaman listrik bergilir yang kembali terjadi di wilayah Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh memicu beragam reaksi masyarakat. Kondisi tersebut dinilai ironis karena daerah ini memiliki Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) berkapasitas besar yang selama ini menjadi salah satu penopang energi di Sumatra.
Gangguan kelistrikan diketahui terjadi akibat masalah pada jaringan transmisi Sumatra di jalur Muara Bungo–Sungai Rumbai. Dampaknya, sejumlah wilayah mengalami pemadaman secara bertahap sebagai bagian dari upaya penstabilan sistem kelistrikan regional.
Situasi itu membuat masyarakat mempertanyakan alasan listrik masih padam bergilir meski pasokan energi dari PLTA di wilayah Kerinci disebut dalam kondisi aman dan bahkan surplus.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kalau pembangkit besar ada di daerah sendiri, masyarakat tentu berharap listrik tetap aman saat terjadi gangguan,” ungkap salah seorang warga Sungai Penuh.
PLTA yang dikelola PT Kerinci Merangin Hidro diketahui memiliki kapasitas sekitar 350 megawatt. Seluruh unit pembangkit disebut telah beroperasi penuh dan tidak mengalami gangguan produksi.
Manager PLTA KMH, Aslori, menjelaskan bahwa dari sisi pembangkitan, kondisi saat ini tetap stabil. Menurutnya, empat unit turbin dengan kapasitas masing-masing 87,5 megawatt sudah beroperasi optimal sejak akhir tahun 2025.
“Secara produksi tidak ada kendala. Daya yang dihasilkan bahkan cukup untuk mendukung kebutuhan listrik Kerinci, Sungai Penuh hingga wilayah Provinsi Jambi,” jelasnya.
Namun demikian, listrik yang dihasilkan PLTA tersebut masuk ke dalam jaringan interkoneksi Sumatra melalui sistem transmisi tegangan tinggi 150 kV. Artinya, distribusi daya tidak hanya digunakan untuk wilayah lokal, melainkan disalurkan sesuai kebutuhan sistem secara menyeluruh.
Di sisi lain, PLN menyebut pemadaman bergilir dilakukan sebagai bagian dari pengaturan beban pasca gangguan besar yang terjadi pada sistem kelistrikan Sumatra beberapa waktu lalu.
Manajer PLN ULP Sungai Penuh, Eko Pitono, mengatakan wilayah Kerinci dan Sungai Penuh tidak mengalami blackout total, namun tetap dilakukan pengurangan beban agar pemulihan sistem berjalan lebih cepat.
“Ini sifatnya sementara untuk menjaga kestabilan jaringan dan membantu proses normalisasi sistem interkoneksi Sumatra,” ujarnya, Minggu (24/5/2026).
Kondisi tersebut memunculkan diskusi di tengah masyarakat terkait distribusi energi di daerah penghasil listrik. Banyak warga menilai wilayah yang menjadi lokasi pembangkit semestinya memperoleh prioritas pasokan ketika terjadi gangguan besar.
Meski secara teknis sistem interkoneksi bekerja secara regional dan terpusat, tuntutan masyarakat dianggap sebagai hal yang wajar dari sisi sosial maupun kepentingan daerah.
Pengamat menilai persoalan utama bukan terletak pada kurangnya daya pembangkit, melainkan pada jaringan transmisi dan mekanisme distribusi energi dalam sistem interkoneksi Sumatra.
Karena itu, keterbukaan informasi dan komunikasi yang jelas dari pihak terkait dinilai penting agar masyarakat memahami penyebab pemadaman serta proses pemulihan yang sedang dilakukan.
Di tengah polemik yang berkembang, keberadaan PLTA Kerinci Merangin Hidro tetap dipandang sebagai aset strategis sektor energi di Sumatra. Selain menopang kebutuhan listrik daerah, pembangkit tersebut juga berperan penting menjaga stabilitas pasokan energi regional ketika terjadi gangguan pada sistem kelistrikan besar. (Fer)
Editor : Periyan








