MAGELANG, Newsline.id – Sebanyak 33 jurnalis yang tergabung dalam Forum Wartawan Ekonomi dan Bisnis (Forweb) Jambi diajak Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Jambi mengunjungi kawasan Candi Borobudur, Jawa Tengah, Sabtu (3/10/2026).
Kunjungan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Capacity Building Forweb Jambi sekaligus ruang edukasi bagi para jurnalis untuk menggali potensi sejarah, budaya dan pariwisata yang memiliki keterkaitan dengan Provinsi Jambi.
Tidak hanya menikmati kemegahan Candi Borobudur, rombongan juga mengunjungi museum untuk melihat berbagai koleksi sejarah yang tersimpan di kawasan tersebut.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi Jambi, Robby Fathir Nashary, mengatakan kunjungan tersebut memiliki tujuan lebih jauh, yakni mendorong jurnalis menggali konektivitas sejarah antara Kompleks Percandian Muaro Jambi dan Borobudur.
Menurut Robby, Muaro Jambi merupakan salah satu situs penting dalam sejarah perkembangan agama Buddha dan pendidikan keagamaan di kawasan Asia Tenggara pada masa lalu.
Ia berharap para jurnalis dapat mengolah konektivitas sejarah tersebut menjadi cerita yang menarik dan mendalam sehingga mampu memperkenalkan potensi wisata sejarah Jambi kepada masyarakat yang lebih luas.
“Dari kunjungan ini kami berharap rekan-rekan jurnalis dapat merangkai cerita serta membangun narasi yang mendalam mengenai konektivitas sejarah antara Borobudur dan Muaro Jambi,” ujar Robby.
Menurutnya, narasi sejarah yang dikemas secara menarik berpotensi menjadi storytelling pariwisata yang dapat memperkuat daya tarik kedua destinasi.
Dengan membangun konektivitas cerita antara Jawa Tengah dan Jambi, wisatawan yang berkunjung ke Borobudur maupun kawasan Yogyakarta diharapkan memiliki alasan untuk mengenal lebih jauh warisan sejarah yang berada di Muaro Jambi.
Jambi Perlu Bangun Konektivitas Pariwisata
Robby mengatakan pengembangan pariwisata Jambi juga membutuhkan konektivitas dengan daerah yang telah menjadi pintu masuk wisatawan, salah satunya Yogyakarta.
Menurutnya, kondisi Jambi yang belum memiliki bandara internasional menjadi salah satu tantangan dalam mendatangkan wisatawan mancanegara secara langsung.
Karena itu, kerja sama dan konektivitas promosi pariwisata dengan daerah yang telah memiliki ekosistem pariwisata kuat dinilai dapat membuka peluang lebih besar bagi destinasi di Jambi.
“Menjalin kemitraan pariwisata dengan Yogyakarta sebagai salah satu gerbang utama pariwisata nasional akan sangat menguntungkan bagi pengembangan pariwisata di Jambi,” katanya.
Menelusuri Jejak Batu Andesit di Muaro Jambi
Dalam kunjungan tersebut, pembahasan juga menyinggung keberadaan sejumlah material batu andesit di Kompleks Percandian Muaro Jambi.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah artefak makara berbahan batu andesit yang berada di kawasan Candi Kedaton.
Keberadaan material tersebut menarik untuk dikaji karena batu andesit bukan material utama yang digunakan dalam konstruksi kompleks percandian Muaro Jambi yang sebagian besar menggunakan bata.
Jejak material batu tersebut menjadi salah satu bagian dari cerita panjang mengenai hubungan antardaerah dan jaringan perdagangan serta keagamaan yang berkembang di Nusantara pada masa lampau.
Kompleks Muaro Jambi sendiri dikenal sebagai kawasan percandian yang luas dan memiliki nilai penting dalam sejarah peradaban Melayu-Sumatra.
Konektivitas sejarah antara Muaro Jambi dan pusat-pusat perkembangan Buddha di kawasan Nusantara juga menjadi ruang menarik untuk dikaji lebih jauh oleh para peneliti maupun jurnalis.
Borobudur dan Muaro Jambi, Cerita Besar Peradaban Nusantara
Kunjungan tersebut juga membuka ruang diskusi mengenai bagaimana pengetahuan, keagamaan, budaya dan teknologi pada masa lampau berkembang melalui jaringan antarkawasan.
Kemegahan Borobudur menunjukkan tingginya kemampuan masyarakat Nusantara dalam bidang arsitektur dan pengelolaan pengetahuan pada masanya. Sementara Muaro Jambi menjadi salah satu situs penting yang merekam perkembangan intelektual dan keagamaan di wilayah Sumatra.
Karena itu, hubungan kedua kawasan tersebut dapat menjadi bahan storytelling yang menarik untuk memperkenalkan sejarah Nusantara dari perspektif yang lebih luas.
Penjelasan mengenai sejarah Borobudur dan perkembangan peradaban Nusantara turut disampaikan Dayat, salah seorang storyteller di Museum Candi Borobudur.
Ia mengajak masyarakat untuk melihat peninggalan sejarah Nusantara bukan sekadar sebagai bangunan masa lalu, tetapi sebagai bukti perjalanan panjang peradaban dan pengetahuan masyarakat Indonesia.
Rangkaian kunjungan edukatif tersebut diharapkan menjadi bekal bagi para jurnalis Forweb Jambi untuk menghasilkan karya jurnalistik yang tidak hanya informatif, tetapi juga mampu mengangkat potensi sejarah dan pariwisata Jambi ke tingkat yang lebih luas.
Muaro Jambi dan Borobudur pada akhirnya bukan sekadar dua destinasi sejarah yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari cerita besar tentang perjalanan peradaban, pengetahuan dan pertukaran budaya di Nusantara.
Editor : M. Abyan A








