YOGYAKARTA, Newsline.id – Perubahan pola konsumsi informasi, perkembangan platform digital, hingga pergeseran model bisnis iklan membuat industri media menghadapi tantangan yang semakin kompleks.
Di tengah perubahan tersebut, media siber dituntut tidak sekadar mengejar jumlah pembaca, tetapi mampu menghadirkan konten yang relevan, memiliki karakter, dan memberikan nilai bagi audiens.
Hal itu mengemuka dalam Capacity Building Forum Wartawan Ekonomi dan Bisnis (Forweb) Jambi bertema “Transformasi Jurnalistik di Era Multi-Platform” yang digelar di Yogyakarta, Jumat (2/10/2026).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pemimpin Redaksi Tirto.id, Rahmadi Ismail, mengatakan media tidak bisa lagi hanya mengandalkan pola bisnis dan strategi pemberitaan konvensional.
Menurutnya, relevansi dengan audiens menjadi salah satu kunci agar media mampu bertahan dan berkembang di tengah persaingan informasi yang semakin ketat.
“Media harus memiliki relevansi dengan audiens. Karena itu, konten yang dihasilkan harus memiliki nilai dan karakter yang membedakannya dengan media lain,” ujar Rahmadi.
Media Daerah Punya Kekuatan di Isu Lokal
Rahmadi menilai media daerah memiliki keunggulan tersendiri karena berada lebih dekat dengan masyarakat dan memiliki akses terhadap isu-isu lokal yang tidak selalu menjadi perhatian media nasional.
Potensi tersebut, kata dia, dapat diperkuat melalui pemberitaan yang unik, mendalam, berbasis data, serta mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
Selain menghasilkan konten berkualitas, media daerah juga perlu membangun jejaring dan komunitas pembaca agar hubungan dengan audiens tidak hanya bersifat transaksional.
“Yang dibangun bukan hanya jumlah pembaca, tetapi komunitas pembaca yang memang relevan dengan konten kita,” katanya.
Menurut Rahmadi, keberadaan komunitas pembaca menjadi modal penting bagi keberlanjutan media karena dapat menciptakan hubungan yang lebih kuat antara media dengan audiensnya.
Setiap Platform Punya Karakter Berbeda
Di era multi-platform, strategi distribusi konten juga tidak dapat dilakukan dengan pendekatan yang sama untuk seluruh kanal.
Website, misalnya, dapat menjadi ruang utama untuk menghadirkan berita berkualitas, mendalam, berbasis data, memiliki visual yang menarik, serta diperkuat melalui optimalisasi Search Engine Optimization (SEO).
Sementara itu, platform media sosial seperti Instagram, TikTok, Facebook, Threads dan YouTube memiliki karakter audiens serta pola konsumsi konten yang berbeda.
Karena itu, konten tidak cukup hanya diunggah ulang dari satu platform ke platform lainnya. Materi jurnalistik perlu diolah kembali agar sesuai dengan format, karakter dan perilaku audiens di masing-masing kanal.
Transformasi tersebut membuat jurnalis dan pengelola media dituntut memiliki kemampuan yang lebih luas, tidak hanya dalam penulisan berita, tetapi juga memahami data, visual, distribusi digital dan perilaku audiens.
Media Tak Lagi Sekadar Mengejar Trafik
Rahmadi menekankan bahwa masa depan bisnis media tidak semata-mata ditentukan oleh tingginya trafik.
Kemampuan memahami kebutuhan audiens, menghasilkan konten yang relevan, serta membangun komunitas pembaca justru menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan media.
Kondisi tersebut sekaligus menjadi tantangan bagi media siber di daerah untuk menemukan karakter dan ceruk audiensnya masing-masing.
Kegiatan Capacity Building Forweb Jambi turut dihadiri Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jambi, Robby Fathir Nashary.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kapasitas insan media Jambi dalam menghadapi perubahan lanskap jurnalistik, perkembangan teknologi digital, serta tantangan bisnis media di era multi-platform.
Melalui penguatan kapasitas tersebut, media diharapkan tidak hanya mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi, tetapi juga semakin konsisten menghadirkan informasi yang berkualitas, relevan dan dibutuhkan masyarakat.
Editor : M. Abyan A








