JAMBI, Newsline.id – Jambi Cultural Fest (JCF) 2026 resmi dibuka di Gedung Teater Arena Taman Budaya Jambi, Kamis (16/7/2026). Festival yang digelar Yayasan Arus Budaya ini berlangsung hingga 18 Juli 2026 dengan menghadirkan enam koreografer terpilih dari berbagai provinsi di Indonesia.
Direktur JCF 2026, Ichalago, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung penyelenggaraan festival sehingga dapat kembali terlaksana dengan cakupan yang lebih luas.
“Kami berterima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung terselenggaranya JCF 2026. Selamat datang kepada seluruh peserta di Jambi,” ujarnya saat pembukaan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kepala Taman Budaya Jambi sekaligus kurator JCF 2026, Sri Purnama Syam, menjelaskan bahwa seluruh peserta yang tampil telah melalui proses seleksi ketat. Dari 40 proposal yang masuk, panitia menetapkan enam koreografer terbaik berdasarkan kualitas karya dan konsep pertunjukan.
“Enam koreografer yang tampil merupakan hasil kurasi dari berbagai aspek sehingga karya yang disajikan memiliki kualitas yang sangat baik,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi, Imron Rosyadi, mengapresiasi perkembangan JCF yang kini tidak lagi hanya menghadirkan peserta dari Sumatera, tetapi telah menjangkau koreografer dari berbagai daerah di Indonesia.
Ia berharap festival tersebut terus berkembang hingga mampu menjadi agenda budaya bertaraf internasional.
“Setelah tingkat nasional, semoga ke depan Jambi Cultural Fest bisa berkembang menjadi festival internasional,” ujarnya.
Pada malam pembukaan, sejumlah seniman turut memeriahkan panggung, di antaranya Almira dan Bayu, Komula (Komunitas Mula), Sebiduk Sedayung, Puji Lestari, Azhar MJ, Maestro Musik Tradisional Jambi, Aiyla-Alvena-Khayla, serta JCF Dance Crew. Festival juga menghadirkan pertunjukan music installation oleh Gilang dan pameran karya foto Pewarta Foto Indonesia (PFI) Jambi bersama fotografer Eko Wahyudi di lobi Taman Budaya Jambi.
Tahun ini, JCF mengusung tema “Bukan Sebagai Kenangan, Melainkan Jawaban”, yang mengangkat nilai-nilai tradisi masyarakat adat sebagai solusi atas berbagai tantangan sosial, ekonomi, dan lingkungan.
Menurut Ichalago, tema tersebut mengajak masyarakat melihat tradisi bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan fondasi untuk membangun masa depan yang lebih berkeadilan dan berkelanjutan.
Adapun enam koreografer yang tampil pada JCF 2026 berasal dari berbagai daerah, yakni Tri Putra Mahardhika (Jambi), Muhammad Fahrul (Kalimantan Barat), Fachri Matlawa (Papua), Shafira Emeralda (Bangka Belitung), I Putu Oka Surya Pratama (Bali), dan Ahmad Ghozali (Mentawai, Sumatera Barat). Festival ini menjadi bukti semakin luasnya jangkauan JCF sebagai ruang apresiasi seni pertunjukan di tingkat nasional.
(*/Rd)
Editor : Ryanto








