PRAVAHA Diseminasi di Kota Jambi, Angkat Cerita Budaya dan Perubahan Ruang Hidup Danau Lamo

Senin, 21 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAMBI, NEWSLINE.ID – Film dokumenter PRAVAHA karya sineas Rical Maikel resmi didiseminasikan kepada publik melalui pemutaran film dan pameran fotografi di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Jambi, Senin (21/9/2026).

Kegiatan tersebut digelar komunitas Langit Lantai Salareh sebagai bagian dari diseminasi karya yang mendapat dukungan Dana Indonesiana 2026 melalui kategori Dokumentasi Karya Pengetahuan Maestro/Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) Rawan Punah.

Rical Maikel yang bertindak sebagai sutradara mengatakan, proses penciptaan PRAVAHA tidak hanya berorientasi pada produksi film. Lebih dari itu, proses tersebut menjadi perjalanan untuk merekam pengetahuan lokal, praktik kebudayaan, pengalaman masyarakat, sekaligus perubahan ruang hidup yang ditemui di Desa Danau Lamo, Jambi.

ADVERTISEMENT

banner BCChost

SCROLL TO RESUME CONTENT

Film ini membawa penonton menyusuri kehidupan masyarakat Danau Lamo dengan sungai sebagai salah satu benang merah cerita. Hubungan manusia dengan lingkungan, pengetahuan lokal, serta tradisi yang masih bertahan menjadi bagian penting dalam narasi PRAVAHA.

Salah satu tokoh yang diikuti dalam film adalah Maskur, warga Danau Lamo yang aktif menjaga kebudayaan melalui living museum yang dikelolanya. Ia juga merawat aliran air melalui dam yang berada di wilayah desa dan menjalankan aktivitas sebagai peternak madu.

Lokasi peternakan madu Maskur berada di kawasan yang kini didominasi hamparan pohon akasia dan berada dalam penguasaan korporasi. Kondisi tersebut memperlihatkan perubahan hubungan masyarakat dengan ruang yang sebelumnya memiliki kedekatan dengan kehidupan mereka.

Dahulu, kawasan tersebut menjadi tempat masyarakat mencari ikan dan memanfaatkan sumber daya alam. Bagi Maskur, wilayah itu juga menyimpan kenangan masa kecil.

Kini, akses menuju lokasi peternakan madu tidak lagi sebebas sebelumnya. Maskur harus meminta izin untuk memasuki kawasan tersebut. Situasi itu menjadi salah satu pengalaman yang direkam Rical dalam proses penciptaan film.

Selain Maskur, PRAVAHA turut menghadirkan Nuraini bersama kelompok penganyam di Desa Danau Lamo. Praktik menganyam pandan ditampilkan bukan sekadar sebagai aktivitas menghasilkan kerajinan, tetapi sebagai bagian dari pengetahuan yang diwariskan dan terus dipraktikkan masyarakat.

Cerita kebudayaan juga hadir melalui sosok Zulkarnain atau yang akrab disapa Om Zul. Ia dikenal sebagai seniman tradisi, budayawan sekaligus maestro krinok.

Melalui Om Zul, film membawa penonton mengenal cerita mengenai Perahu Kajang Lako yang kemudian berkembang menjadi kisah tentang kehidupan masyarakat di kawasan tepian sungai pada masa lalu.

Dalam film tersebut, sungai tidak hanya menjadi latar tempat. Sungai ditempatkan sebagai bagian dari gagasan utama yang menghubungkan aliran kehidupan, ingatan, pengetahuan, kebudayaan, hingga perubahan hubungan masyarakat dengan ruang hidupnya.

Nama PRAVAHA sendiri merujuk pada makna aliran. Konsep tersebut menjadi pengikat berbagai cerita yang hadir dalam film, mulai dari air yang mengalir, pengetahuan yang diwariskan antargenerasi, kehidupan masyarakat, hingga perubahan ruang yang mereka alami.

Tak hanya pemutaran film, kegiatan diseminasi juga dilengkapi pameran fotografi. Sejumlah foto merekam kehidupan masyarakat, kondisi lingkungan, aktivitas kebudayaan, serta berbagai temuan selama proses produksi film di Danau Lamo.

Pameran tersebut menjadi medium visual untuk memperkenalkan kembali pengalaman lapangan kepada masyarakat sekaligus memperluas ruang percakapan mengenai kebudayaan dan perubahan lingkungan di daerah.

Rical berharap karya yang dihasilkan melalui dukungan Dana Indonesiana tidak berhenti sebagai hasil program semata. Ia ingin PRAVAHA dapat terus menjadi arsip, sumber pengetahuan, sekaligus ruang dialog bagi masyarakat.

Melalui kegiatan tersebut, Langit Lantai Salareh juga berupaya membawa cerita dan pengetahuan yang tumbuh di daerah ke ruang publik. Praktik kebudayaan dan pengalaman masyarakat lokal dinilai penting untuk terus didokumentasikan, diperbincangkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Rical Maikel merupakan penerima manfaat Dana Indonesiana 2026 kategori Dokumentasi Karya Pengetahuan Maestro/Objek Pemajuan Kebudayaan Rawan Punah. Dalam program tersebut, ia berperan sebagai sutradara film dokumenter PRAVAHA yang mengangkat kehidupan masyarakat dan praktik kebudayaan di Desa Danau Lamo, Jambi.

(*/)

Editor : M. Abyan A

Berita Terkait

Komisi Informasi Jambi Visitasi Ombudsman, Evaluasi Keterbukaan Informasi Publik 2026
Tak Sekadar Berbisnis, Ahmad Adril Elfani Ingin Berkontribusi bagi Pembangunan Jambi
Tinjau Pemondokan Kafilah MTQH Merangin, Wabup A. Khafidh Beri Motivasi dan Pastikan Kondisi Peserta
MTQH ke-55 Provinsi Jambi Resmi Dibuka, Al Haris Dorong Lahirnya Juara Nasional
Aliansi Jambi Marah Geruduk Kantor Gubernur, Kapolda Imbau Massa Tak Terprovokasi
Al Haris Tekankan Pembinaan Qori-Qoriah, Targetkan Kafilah Jambi Berprestasi di Level Nasional
Mobil Hias Masjid Baitul Makmur Jadi Sorotan, Kafilah Merangin Tampil Memukau di Pawai Ta’aruf MTQH ke-55
Bank Jambi Raih Tiga Penghargaan Nasional di ICBA 2026, Sabet Dua Gold dan Satu Platinum
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 4 November 2026 - 20:09 WITA

Komisi Informasi Jambi Visitasi Ombudsman, Evaluasi Keterbukaan Informasi Publik 2026

Rabu, 4 November 2026 - 16:30 WITA

Tak Sekadar Berbisnis, Ahmad Adril Elfani Ingin Berkontribusi bagi Pembangunan Jambi

Senin, 2 November 2026 - 17:29 WITA

Tinjau Pemondokan Kafilah MTQH Merangin, Wabup A. Khafidh Beri Motivasi dan Pastikan Kondisi Peserta

Senin, 2 November 2026 - 09:37 WITA

MTQH ke-55 Provinsi Jambi Resmi Dibuka, Al Haris Dorong Lahirnya Juara Nasional

Minggu, 1 November 2026 - 19:33 WITA

Aliansi Jambi Marah Geruduk Kantor Gubernur, Kapolda Imbau Massa Tak Terprovokasi

Berita Terbaru