OJK: Sektor Jasa Keuangan Tetap Stabil di Tengah Ketidakpastian Global

Rabu, 9 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA, Newsline.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai sektor jasa keuangan (SJK) nasional masih berada dalam kondisi stabil di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan tekanan inflasi global.

Penilaian tersebut disampaikan dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK pada 26 Agustus 2026. OJK mencermati sejumlah risiko global, termasuk konflik di kawasan Timur Tengah yang masih berlangsung serta belum terbukanya kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Gangguan distribusi energi tersebut berdampak terhadap volatilitas harga minyak dan komoditas, sehingga tekanan inflasi global masih relatif tinggi.

ADVERTISEMENT

banner BCChost

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tekanan tersebut turut diperbesar oleh fenomena El Nino berkepanjangan yang memicu kekeringan dan kebakaran hutan di sejumlah wilayah. Kondisi ini meningkatkan risiko gagal panen serta berpotensi mendorong kenaikan harga pangan global.

Di tengah kondisi tersebut, pertumbuhan ekonomi dunia cenderung melambat. Mayoritas negara mencatat perlambatan ekonomi pada triwulan II 2026.

Di Amerika Serikat, pertumbuhan ekonomi berada di bawah ekspektasi. Kondisi pasar tenaga kerja juga mulai termoderasi, sementara inflasi masih berada pada level tinggi meski menunjukkan tren penurunan.

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Tiongkok pada triwulan II 2026 melambat menjadi 4,3 persen secara tahunan (year on year/yoy). Data terkini juga menunjukkan pelemahan masih berlanjut, baik dari sisi produksi maupun permintaan domestik.

Di pasar keuangan global, imbal hasil obligasi pemerintah negara maju kembali meningkat. Kondisi tersebut dipengaruhi antara lain oleh meningkatnya kebutuhan pendanaan belanja modal perusahaan hyperscaler, di tengah kebijakan moneter yang masih restriktif.

Aliran dana keluar dari investor nonresiden juga masih terjadi di sejumlah pasar keuangan negara berkembang.

Ekonomi Domestik Tetap Tumbuh

Di tengah tekanan global, perekonomian Indonesia masih menunjukkan pertumbuhan yang relatif kuat. Pada triwulan II 2026, ekonomi nasional tumbuh 5,29 persen secara yoy, meski melambat dibandingkan pertumbuhan triwulan I 2026 sebesar 5,61 persen.

Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh investasi dan belanja pemerintah. Konsumsi rumah tangga juga masih menjadi salah satu penopang utama perekonomian.

Sementara itu, inflasi pada Agustus 2026 tercatat sebesar 3,19 persen yoy. Aktivitas manufaktur berada di zona kontraksi dengan Purchasing Managers’ Index (PMI) sebesar 49,8.

Ketahanan eksternal ekonomi juga mengalami moderasi seiring berlanjutnya defisit neraca perdagangan pada Juni 2026 dan meningkatnya defisit transaksi berjalan pada triwulan II 2026 menjadi 3,3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Pasar Modal Mulai Menguat

OJK mencatat pasar saham domestik menunjukkan penguatan sepanjang Agustus 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup pada level 6.525,48 atau naik 4,64 persen secara month to month (mtm), meskipun secara year to date (ytd) masih terkoreksi 24,53 persen.

Likuiditas dan ketahanan pasar modal domestik secara umum dinilai tetap terjaga.

Minat investor asing di pasar saham juga masih positif. Pada Agustus 2026, investor asing mencatatkan net buy sebesar Rp1,19 triliun, meski lebih rendah dibandingkan Juli 2026 yang mencapai Rp1,62 triliun.

Dari sisi likuiditas, rata-rata bid-ask spread menyempit menjadi 1,17 persen dari sebelumnya 1,33 persen pada Juli 2026.

Sementara itu, rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) meningkat menjadi Rp15,86 triliun, dibandingkan Rp14,31 triliun pada bulan sebelumnya.

Di pasar obligasi, Indonesia Composite Bond Index (ICBI) pada akhir Agustus 2026 berada di level 440,04 atau naik 2,23 persen secara mtm. Namun, secara ytd indeks masih terkoreksi tipis sebesar 0,18 persen.

Yield Surat Berharga Negara (SBN) rata-rata meningkat 26,48 basis poin secara mtm. Di sisi lain, minat investor asing terhadap SBN tetap positif dengan net buy Rp15,35 triliun, meningkat dibandingkan Juli yang sebesar Rp6,79 triliun.

Pasar obligasi korporasi mencatat net sell tipis sebesar Rp0,07 triliun, membaik dibandingkan net sell Rp0,26 triliun pada Juli 2026.

Pengelolaan Investasi dan Investor Pasar Modal Meningkat

Kinerja industri pengelolaan investasi juga relatif terjaga. Nilai Asset Under Management (AUM) mencapai Rp1.013,03 triliun, naik 0,03 persen secara mtm, meski secara ytd masih turun 2,85 persen.

Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa dana mencapai Rp652,88 triliun, meningkat 0,05 persen secara mtm dan secara ytd mengalami penurunan 3,32 persen. Sementara investor reksa dana mencatatkan net redemption sebesar Rp8,50 triliun.

Sejak ETF Emas diluncurkan pada 10 Agustus 2026, hingga 31 Agustus 2026 telah terdapat tujuh produk ETF Emas yang diterbitkan oleh tujuh Manajer Investasi dengan total dana kelolaan Rp90,39 miliar.

Jumlah investor pasar modal juga terus bertambah. Pada Agustus 2026 terdapat tambahan sekitar 1,07 juta investor baru.

Dengan perkembangan tersebut, jumlah investor pasar modal secara ytd tumbuh 52,90 persen menjadi 31,14 juta investor.

Penghimpunan dana korporasi melalui pasar modal juga masih kuat. Hingga akhir Agustus 2026, nilai fundraising mencapai Rp128,80 triliun.

Dana tersebut dihimpun melalui tujuh Penawaran Umum Saham Perdana (IPO), 12 Penawaran Umum Terbatas (PUT), sembilan Penawaran Umum Efek Bersifat Utang dan/atau Sukuk (EBUS), serta 111 Penawaran Umum Berkelanjutan EBUS.

Sementara itu, terdapat 24 rencana penawaran umum dalam pipeline dengan nilai indikatif mencapai Rp48,31 triliun.

Melalui Securities Crowdfunding (SCF), sepanjang Agustus 2026 terdapat 16 efek baru dan tiga penerbit baru dengan dana yang berhasil dihimpun sebesar Rp29,97 miliar. Secara agregat, dana yang dihimpun melalui SCF telah mencapai Rp2,04 triliun.

Transaksi Derivatif dan Bursa Karbon

Di pasar keuangan derivatif, sejak 10 Januari 2025 hingga 31 Agustus 2026 tercatat 113 pihak telah memperoleh persetujuan prinsip dari OJK.

Volume transaksi pada Agustus 2026 mencapai 55.000 lot. Dengan demikian, total transaksi selama Januari-Agustus 2026 mencapai 352.853 lot.

Sementara di Bursa Karbon, sejak diluncurkan pada 26 September 2023 hingga 31 Agustus 2026, terdapat 159 pengguna jasa yang telah terdaftar.

Volume transaksi secara agregat mencapai 1,98 juta ton CO2 ekuivalen (tCO2e), dengan akumulasi nilai transaksi sebesar Rp93,90 miliar.

OJK Perkuat Pengawasan

OJK menegaskan akan terus memperkuat pengawasan dan penegakan hukum di sektor pasar modal guna menjaga integritas, meningkatkan kepatuhan, serta mempertahankan kepercayaan masyarakat.

Hingga 31 Agustus 2026, OJK telah mengenakan sanksi administratif atas pemeriksaan kasus di bidang Pasar Modal, Derivatif Keuangan, dan Bursa Karbon (PMDK).

Sanksi tersebut meliputi denda Rp104,63 miliar kepada 113 pihak, dua sanksi pencabutan izin, satu pembatalan Surat Tanda Terdaftar (STTD), enam sanksi pembekuan izin, 13 peringatan tertulis, serta lima perintah tertulis.

Selain itu, OJK telah mengenakan denda atas keterlambatan dengan nilai Rp257 miliar kepada 610 pihak dan 194 sanksi peringatan tertulis.

OJK juga menjatuhkan denda Rp200 juta serta 164 sanksi peringatan tertulis atas pelanggaran selain keterlambatan non-kasus.

Khusus sepanjang Agustus 2026, OJK mengenakan sanksi administratif berupa denda sebesar Rp10,15 miliar atas pelanggaran ketentuan perundang-undangan di bidang PMDK serta empat sanksi administratif berupa peringatan tertulis.

OJK memastikan pengawasan sektor jasa keuangan akan terus diperkuat untuk menjaga stabilitas pasar sekaligus memastikan perlindungan terhadap konsumen dan masyarakat tetap berjalan di tengah dinamika ekonomi global.

(Red)

Editor : M. Abyan A

Berita Terkait

BPJS Kesehatan Dorong Layanan Jantung Berbasis Outcome, Tekan Biaya dan Tingkatkan Mutu
Honda New Rebel 1100 Dapat Warna Baru, Tampil Makin Premium
Kepesertaan JKN Tembus 284,3 Juta, BPJS Kesehatan Dorong Faskes Tingkatkan Mutu Layanan
Jelang HUT ke-36, JNE Gandeng Muklay Ubah Armada Pengiriman Jadi Galeri Seni Berjalan
Pemerintah Satukan Layanan Perizinan TKA melalui OSS, Permudah Proses Investasi
Sarjito Resmi Jabat Kepala Eksekutif Pengawas Bursa Mineral dan Komoditas Strategis OJK
OJK Beri Izin Wilayah Usaha Nasional kepada PT Gadai Elektronik Jakarta
Kemnaker Dorong BUMN Perkuat Tata Kelola Hubungan Industrial di Tengah Restrukturisasi
Berita ini 4 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 16 September 2026 - 16:03 WITA

Honda New Rebel 1100 Dapat Warna Baru, Tampil Makin Premium

Rabu, 16 September 2026 - 16:00 WITA

Kepesertaan JKN Tembus 284,3 Juta, BPJS Kesehatan Dorong Faskes Tingkatkan Mutu Layanan

Senin, 14 September 2026 - 12:20 WITA

Jelang HUT ke-36, JNE Gandeng Muklay Ubah Armada Pengiriman Jadi Galeri Seni Berjalan

Minggu, 13 September 2026 - 17:11 WITA

Pemerintah Satukan Layanan Perizinan TKA melalui OSS, Permudah Proses Investasi

Kamis, 10 September 2026 - 09:47 WITA

Sarjito Resmi Jabat Kepala Eksekutif Pengawas Bursa Mineral dan Komoditas Strategis OJK

Berita Terbaru